PDI Perjuangan di Persimpangan: Rakyat atau Kader

Jumat, 26 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Kontroversi ucapan Masdar Mansur masih menyisakan bara. Dengan enteng ia menulis, “Yang mau DPR dibubarkan itu orang goblok.” Kalimat pendek yang viral di media sosial itu kini berubah menjadi badai politik. Bukan sekadar karena bahasanya kasar, tetapi karena ia datang dari seorang kader partai yang mengaku membawa amanat rakyat.

Gerakan Peduli Rakyat Halmahera Selatan (GPR HS) se-Jabodetabek pun turun tangan. Mereka menilai pernyataan Masdar adalah penghinaan terbuka terhadap rakyat . Tuntutan mereka jelas: PDI Perjuangan harus mencopot Masdar dari keanggotaan partai. Jika tidak, partai ini dianggap ikut menyepelekan suara rakyat.

Partai politik berdiri karena rakyat. Legitimasi lahir dari kepercayaan publik, bukan dari kursi yang diperebutkan di pemilu. Bila partai melindungi kader yang menghina rakyat, maka partai itu sedang menolak kewajiban moralnya. Dan ketika kewajiban moral diabaikan, konsekuensinya adalah runtuhnya kepercayaan yang selama ini menjadi fondasi politik.

Bagi GPR HS, ini bukan sekadar soal disiplin internal. Ini adalah pertarungan prinsip: apakah partai berani berpihak pada rakyat, atau justru memilih melindungi kader yang melecehkan martabat rakyat. Persimpangan ini akan menentukan arah PDI Perjuangan—tetap bersama rakyat atau semakin jauh dari mereka.

Sejarah politik Indonesia penuh dengan contoh partai yang tumbang karena menutup telinga terhadap suara rakyat. Dari masa kolonial hingga era reformasi, kekuatan politik yang menyepelekan rakyat pada akhirnya runtuh, entah oleh demonstrasi jalanan, entah oleh kekalahan di bilik suara. Tidak ada partai yang bisa bertahan lama dengan menantang kehendak rakyat.

Kini, semua mata tertuju ke PDI Perjuangan. Keputusan atas kasus Masdar Mansur akan menjadi batu uji: apakah partai ini masih menempatkan rakyat sebagai pemilik kedaulatan, atau menjadi tempat berlindungnya kader yang lupa daratan. Persimpangan ini tidak bisa dihindari—dan rakyat sedang menunggu jawabannya.(red)

Berita Terkait

Kadis Dispora Halmahera Selatan Noce Totononu Bawa Inovasi Sport Saruma ke Panggung Nasional PKN Tingkat II Angkatan IV Tahun 2026
Asia Hasyim Bawa Misi Besar dari Konferensi Nasional Kusta 2026 untuk Halsel
Formapas Malut Geruduk Kantor Pusat PT ARA. Kecam Keras Dugaan Kerusakan Lingkungan
FORMAHSEL Jakarta Siap Kepung Mabes Polri, Desak Kapolri Copot Kapolres Halsel
Gerindra Mulai Panaskan Mesin Politik di Halsel, Sahril Thahir Instruksikan PAC dan Ranting Segera Rampung
FORMAPAS MALUT Gelar Aksi di PT Mineral Trobos, Desak APH Usut Dugaan Pelanggaran Perizinan Tambang di Pulau Gebe
HIPMA Halsel Jakarta Pasang Ultimatum! Dugaan Pencemaran lingkungan oleh PT GMM diNilai Ancam Kesehatan Warga
Formapas Malut Resmi Laporkan 11 Dugaan Korupsi di Pulau Taliabu ke Kejaksaan Agung RI

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 13:17 WIB

Kadis Dispora Halmahera Selatan Noce Totononu Bawa Inovasi Sport Saruma ke Panggung Nasional PKN Tingkat II Angkatan IV Tahun 2026

Jumat, 10 Juli 2026 - 14:18 WIB

Asia Hasyim Bawa Misi Besar dari Konferensi Nasional Kusta 2026 untuk Halsel

Rabu, 1 Juli 2026 - 11:50 WIB

Formapas Malut Geruduk Kantor Pusat PT ARA. Kecam Keras Dugaan Kerusakan Lingkungan

Senin, 29 Juni 2026 - 21:38 WIB

FORMAHSEL Jakarta Siap Kepung Mabes Polri, Desak Kapolri Copot Kapolres Halsel

Rabu, 24 Juni 2026 - 18:40 WIB

Gerindra Mulai Panaskan Mesin Politik di Halsel, Sahril Thahir Instruksikan PAC dan Ranting Segera Rampung

Berita Terbaru