Halmahera Selatan – Dugaan pencemaran lingkungan yang menyeret nama PT Gema Mineral Mulia (GMM) di wilayah Gane memicu kemarahan Himpunan Pelajar Mahasiswa Halmahera Selatan (HIPMA Halsel) Jakarta. Organisasi mahasiswa tersebut menilai keresahan masyarakat tidak boleh dianggap sepele dan mendesak perusahaan segera membuka seluruh informasi terkait pengelolaan limbah secara transparan.
Ketua Bidang SDM HIPMA Halsel Jakarta, Usama Ait, menegaskan bahwa jika dugaan pencemaran itu terbukti, maka persoalan tersebut bukan lagi sekadar masalah administratif, melainkan ancaman serius terhadap hak hidup dan kesehatan masyarakat.
“Perusahaan wajib bertanggung jawab dan membuka informasi kepada publik. Jangan sampai masyarakat menjadi korban akibat aktivitas industri yang diduga tidak dikelola sesuai standar lingkungan,” tegas Usama.
HIPMA Halsel Jakarta juga menyoroti lambannya respons perusahaan terhadap berbagai keluhan warga yang berkembang di tengah masyarakat. Menurut mereka, sikap diam justru memperkuat kecurigaan publik dan memperbesar krisis kepercayaan terhadap korporasi.
Tak hanya mendesak penghentian sementara pengelolaan limbah yang diduga bermasalah, HIPMA Halsel Jakarta juga meminta jaminan layanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak penurunan kualitas lingkungan di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Jika tuntutan tersebut tidak direspons secara serius, HIPMA Halsel Jakarta mengaku siap membawa persoalan ini ke tingkat nasional melalui aksi demonstrasi terbuka di Jakarta.
“Kami tidak akan tinggal diam ketika masyarakat mengeluhkan kondisi lingkungan yang diduga semakin memburuk. Jika perusahaan tetap bungkam, kami siap turun ke jalan,” ujar Usama.
Kasus dugaan pencemaran di Gane kini menjadi sorotan publik dan menambah daftar panjang polemik lingkungan di Maluku Utara di tengah pesatnya ekspansi industri pertambangan. (red)

















