Halmahera Selatan.— Peringatan Hari Jadi ke-21 Ikatan Keluarga Tobelo-Galela (IKA-TOGALE) Kabupaten Halmahera Selatan menjadi momentum untuk kembali mengingatkan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah derasnya perkembangan zaman.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Bupati Halmahera Utara, Dr. Kasman Hi. Ahmad, M.Pd, saat menghadiri pembukaan Hari Jadi ke-21 IKA-TOGALE Kabupaten Halmahera Selatan sekaligus pelantikan pengurus IKA-TOGALE, Sabtu, 26 September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Kasman bertindak sebagai narasumber dengan mengangkat tema “Melestarikan Identitas Budaya Togale di Era Modern.” Ia mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk tidak melihat pendidikan dan modernisasi sebagai ancaman terhadap budaya, tetapi sebagai sarana untuk memperkuat identitas Togale.
Kasman mengawali pemaparannya dengan mengangkat sebuah idiom yang kerap hidup dalam masyarakat Togale di daratan Halmahera, yakni “Ho Hakola Ma Hoyomo, Ho Hakola Ua Ma Hoyomo”, yang berarti “sekolah juga makan, tidak sekolah juga makan.”
Menurutnya, ungkapan tersebut bukan ajakan untuk menolak pendidikan. Idiom itu merupakan cerminan pandangan hidup masyarakat Togale yang memiliki hubungan erat dengan alam sebagai sumber kehidupan.
Selama hutan, sungai dan laut dirawat, kata Kasman, manusia tetap dapat menyambung hidup. Namun, perkembangan zaman menghadirkan tantangan baru ketika masyarakat harus berhadapan dengan pendidikan formal, literasi digital dan tuntutan kompetensi global.
Karena itu, menurut Kasman, persoalannya bukan memilih antara sekolah atau budaya, melainkan menjembatani keduanya.
Budaya yang Lahir dari Alam
Kasman menjelaskan, budaya Togale dibangun di atas nilai kebersamaan, penghormatan kepada orang tua, gotong royong serta pengetahuan ekologis yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam kehidupan masyarakat, hutan bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi juga ruang pendidikan. Dari alam, anak-anak belajar mengenali jejak hewan, musim buah, jenis sagu hingga tata cara mengambil hasil alam tanpa merusaknya.
Ia menyebut pengetahuan lokal semacam itu sebagai kekayaan indigenous knowledge atau pengetahuan masyarakat adat yang memiliki nilai penting di tengah meningkatnya perhatian terhadap keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, pengetahuan tersebut tidak seluruhnya diperoleh melalui ruang kelas, melainkan melalui praktik kehidupan bersama alam dan proses pewarisan antargenerasi.
Memaknai Kembali Idiom Lama
Kasman menilai ungkapan “Ho Hakola Ma Hoyomo, Ho Hakola Ua Ma Hoyomo” sering kali dapat disalahpahami sebagai pembenaran untuk meninggalkan pendidikan.
Padahal, secara substantif, ungkapan itu lahir dari konteks masyarakat subsisten, ketika pemenuhan kebutuhan hidup bergantung pada keterampilan berburu, meramu, menangkap ikan dan mengolah sagu.
“Pendidikan utama saat itu adalah kemampuan bertahan hidup,” demikian gagasan yang disampaikan Kasman.
Namun, kondisi hari ini telah berubah. Anak-anak Togale tidak hanya berhadapan dengan hutan dan alam, tetapi juga telepon pintar, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), perubahan iklim hingga perkembangan industri.
Karena itu, ia menawarkan pemaknaan baru terhadap idiom tersebut menjadi: “Sekolah agar budaya tetap memberi makan.”
Menurut Kasman, pendidikan formal harus menjadi alat untuk melindungi pengetahuan lokal, bukan menggantikannya.
Seorang anak, misalnya, dapat belajar biologi sekaligus memahami jenis-jenis sagu warisan leluhurnya. Mereka juga dapat belajar hukum sambil memahami hak masyarakat adat, serta mempelajari teknologi untuk mendokumentasikan bahasa dan cerita rakyat Togale.
Modernitas Bukan Musuh Adat
Kasman menegaskan bahwa modernitas tidak selalu berarti hilangnya identitas budaya. Tantangannya terletak pada kemampuan masyarakat untuk mengendalikan perubahan, bukan justru dikendalikan oleh perubahan tersebut.
Menurutnya, identitas budaya dapat terus berkembang melalui adat, agama, pendidikan dan kehidupan sosial. Tradisi tidak harus berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dapat tetap hidup apabila mampu beradaptasi dengan situasi baru.
Ia mencontohkan pemanfaatan teknologi digital sebagai salah satu cara untuk memperkuat pelestarian budaya.
Bahasa daerah dapat diajarkan melalui media digital. Musik tradisional Togale dapat direkam dan dipublikasikan. Cerita lisan dapat ditulis menjadi buku, sementara berbagai pengetahuan budaya dapat didokumentasikan sebagai arsip untuk generasi mendatang.
Pendidikan Harus Memahami Budaya
Kasman menilai tantangan terbesar bukan memilih antara sekolah atau budaya, tetapi bagaimana menghadirkan sekolah yang memahami budaya.
Kurikulum lokal, menurutnya, perlu memberikan ruang bagi sejarah Tobelo-Galela atau Togale, pengetahuan tentang hutan dan lingkungan, teknik pengolahan sagu dan pangan lokal, kearifan lokal yang beretika hingga kosakata bahasa daerah.
Ketika anak-anak hanya mempelajari dunia yang jauh dari kehidupan sehari-hari, kata dia, sekolah dapat terasa asing. Sebaliknya, ketika guru menjadikan sungai, kebun dan hutan sebagai bagian dari ruang belajar, pendidikan akan menjadi lebih bermakna.
Kasman juga mengingatkan bahwa modernisasi sering berjalan bersama perubahan budaya. Bahasa-bahasa kecil dapat perlahan ditinggalkan, bentuk rumah adat berubah, sementara cerita rakyat berpotensi menghilang karena tidak lagi dituturkan.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, generasi Togale mendatang dikhawatirkan hanya mengenal nama Togale tanpa memahami nilai dan ruh budaya yang terkandung di dalamnya.
Karena itu, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui festival tahunan. Upaya tersebut harus hadir dalam keluarga, sekolah, komunitas dan kebijakan pemerintah.
Orang tua, menurut Kasman, tetap menjadi guru pertama yang mengajarkan bahasa ibu. Tokoh adat berperan menjaga memori kolektif, akademisi mendokumentasikan pengetahuan lokal secara ilmiah, sedangkan pemerintah perlu menyediakan ruang perlindungan budaya sekaligus memastikan akses pendidikan yang adil.
Pada akhirnya, Kasman menilai budaya Togale dan pendidikan modern bukan dua hal yang harus dipertentangkan.
Budaya mengajarkan hubungan manusia dengan alam dan sesama, sementara pendidikan modern memberikan kemampuan untuk membaca dunia yang terus berubah. Keduanya dapat berjalan bersama untuk memastikan identitas Togale tetap hidup.
Dalam momentum HUT ke-21 IKA-TOGALE dan pelantikan pengurus tersebut, Kasman pun menitipkan pesan agar generasi muda tidak kehilangan akar budaya ketika memasuki era modern.
“Bersekolahlah agar budaya tetap hidup, dan rawatlah budaya agar kehidupan tetap memberi makan generasi yang akan datang.” (red)

















