Jakarta — Menjawab tantangan tingginya angka pengangguran di kalangan sarjana, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) terus memperkuat peran strategisnya dalam menyiapkan kader yang siap masuk dunia kerja. Salah satu langkah konkret yang ditempuh adalah menjajaki kerja sama dengan sektor swasta dalam penyediaan lapangan kerja bagi anggota GMKI.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kerja sama antara GMKI dan PT Human Resources Indonesia (PT HRI), yang difokuskan pada penyediaan informasi serta proses rekrutmen tenaga kerja bagi anggota GMKI di berbagai daerah.
Sebagai tindak lanjut, Pengurus Pusat (PP) GMKI melalui Bidang Ekonomi Kreatif resmi meluncurkan program “GMKI Worker”, sebuah platform yang dirancang untuk menghubungkan anggota GMKI dengan peluang kerja di sektor privat.
Ketua Bidang Ekonomi Kreatif PP GMKI, Donius Hulu, menjelaskan bahwa peluncuran GMKI Worker merupakan langkah strategis organisasi dalam menjawab kebutuhan nyata kader pasca-kampus. Ia menegaskan bahwa program ini dijalankan sesuai arahan Ketua Umum PP GMKI, Prima Surbakti, masa bakti 2025–2027, yang menekankan pentingnya kemandirian ekonomi kader.
“GMKI tidak boleh berhenti pada pembinaan ideologi dan kepemimpinan saja. Sesuai arahan Ketua Umum, kami di Bidang Ekonomi Kreatif didorong untuk menghadirkan program yang berdampak langsung, salah satunya dengan membuka akses kerja yang lebih luas bagi kader,” ujar Donius.
Sementara itu, Ketua Umum PP GMKI, Prima Surbakti, menegaskan bahwa GMKI Worker merupakan wujud kehadiran organisasi dalam menjawab persoalan riil yang dihadapi kader di tengah ketatnya persaingan dunia kerja.
“GMKI harus menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Program GMKI Worker adalah langkah konkret agar kader GMKI tidak berjalan sendiri menghadapi kerasnya persaingan lapangan kerja,” tegas Prima.
Melalui GMKI Worker, anggota GMKI akan mendapatkan akses informasi lowongan pekerjaan, peluang rekrutmen, hingga jejaring dengan perusahaan swasta yang membutuhkan tenaga kerja sesuai kompetensi.
GMKI berharap program ini dapat menjadi solusi jangka panjang dalam menekan angka pengangguran sarjana sekaligus memperkuat peran organisasi sebagai wadah pembinaan kader yang relevan dengan kebutuhan zaman.
(red)

















