BACAN, JS — Hiruk-pikuk di pusat kota dan pasar tradisional Labuha menyimpan cerita yang belum banyak diperhatikan. Meski menjadi salah satu nadi perekonomian dan kehidupan masyarakat Halmahera Selatan, persoalan terkait sampah yang semakin meningkat di area ini tidak muncul dalam perdebatan publik calon bupati dan wakil bupati yang digelar baru-baru ini.
Hasil pantaun dan penelusuran Jarumsatu, di setiap sudut pasar dan pusat kota, warga dan pedagang sering kali berhadapan dengan tumpukan sampah yang kian mengganggu.

Sampah plastik, sayur-mayur busuk, dan limbah sisa dagangan tampak berserakan di sepanjang lorong pasar dan di sekitar pusat perbelanjaan.
“Ini masalah yang sudah lama kami rasakan,” kata Andi, seorang pedagang Pakaian di Pasar Labuha saat ditemui Jarumsatu, Sabtu (2/11/2024)
“Kita sebagai masyarakat sudah menjaga kebersihan dengan membuang sampah di tempat yang disediakan, tapi kalau tidak diangkut, ya tetap saja menumpuk dan mengotori lingkungan,”sambungya
“Tiap hari, sampah selalu ada, kadang sampai tidak ada lagi tempat untuk melangkah.”
Masalah sampah sebenarnya bukan hanya tentang tumpukan yang merusak pemandangan. Banyak warga dan pelaku usaha kecil menengah di sekitar pusat kota khawatir akan dampaknya terhadap kesehatan dan kenyamanan. Dampak buruk seperti bau menyengat, polusi udara, dan potensi penyakit yang mengintai sering kali diabaikan.

Di sisi lain, pemerintah kabupaten sebelumnya sudah beberapa kali mencoba menerapkan program kebersihan. Namun, banyak warga menilai program tersebut masih kurang efektif.
“Kalau pengangkutan sampah terlambat, dampaknya langsung terasa di kita masyarakat ini,” ujar Mba Dian, warga penjual sembako.
Dari hasil penelusiran Jarumsatu, di beberapa sudut kota, Keberadaan sampah ini seakan menjadi masalah kompleks. Ada persoalan kedisiplinan masyarakat dalam membuang sampah sembarangan, namun faktor utama yang dikeluhkan adalah kurangnya fasilitas pengolahan sampah yang memadai. Dengan pertambahan penduduk dan aktivitas perdagangan yang terus meningkat, kebutuhan akan sistem pengelolaan sampah yang efektif semakin mendesak.
Pertanyaan pun mencuat di antara masyarakat: mengapa isu krusial ini luput dari perhatian dalam debat calon bupati? Sebagai wilayah dengan populasi dan perputaran ekonomi yang tinggi, Labuha memiliki kebutuhan akan sistem penanganan sampah yang komprehensif dan berkelanjutan.
Tetapi hingga saat ini, masalah tersebut belum mendapat tempat dalam program yang dipresentasikan oleh para calon pemimpin daerah.
Pegiat Sosial Ongky Nyong, menyatakan beberapa calon memang sempat menyebut soal peningkatan fasilitas umum, namun spesifik tentang sampah di pusat kota dan pasar tidak tersentuh dalam debat. Padahal, masyarakat berharap para calon bupati menyuguhkan solusi konkret yang mengarah pada peningkatan kualitas hidup di wilayah tersebut.
“Kalau kita hanya fokus pada janji-janji besar tanpa menyelesaikan hal-hal kecil yang sangat terasa, masyarakat akan semakin merasa tidak didengar,”kata Ongky saat ditemui media Jarumsatu, Senin, (4/11/2024)
Menurutnya, masalah sampah ini perlu dijadikan prioritas utama dalam pemerintahan yang akan datang.

Lebih lanjut kata Ongky, Labuha dan kawasan pasar sekitarnya memang terus berkembang. Namun, tanpa adanya perhatian serius terhadap kebersihan dan pengelolaan lingkungan, perkembangan ini bisa justru membawa dampak negatif,”tambahnya.
“Tumpukan sampah hanya akan semakin parah, dan masalah ini, jika terus dibiarkan, bisa memengaruhi citra serta kenyamanan kota.
Debat publik pertama mungkin telah selesai, tetapi pertanyaan tetap ada: kapan sampah-sampah yang menumpuk di pusat kota dan pasar ini benar-benar menjadi perhatian utama bagi pemimpin yang akan datang? (Red)















