Halmahera Selatan — Di sebuah rumah sederhana di Desa Songa, Kecamatan Bacan Timur Selatan, hidup seorang perempuan lanjut usia yang kini harus menjalani hari-harinya dalam keterbatasan. Perempuan itu adalah Oma Bety Habari (60), yang akrab disapa warga dengan panggilan Oma Nilon. Ia adalah seorang janda yang tetap berusaha tegar setelah ditinggal sang suami setahun lalu.
Saat ditemui Pimpinan Redaksi jarumSatu.com di kediaman Oma Nilon Songa 29 April 2026, Oma Nilon tampak hanya bisa duduk dan berbaring sambil menahan rasa sakit akibat kondisi fisik yang dialaminya.
Cobaan hidup Oma Nilon tidak berhenti pada kehilangan pasangan hidup. Sekitar enam bulan lalu, ia mengalami musibah saat turun dari pohon langsat. Saat itu, Oma Nilon terpeleset lalu kakinya menghantam batu hingga mengalami luka cukup serius.
Awalnya luka tersebut dianggap biasa. Namun seiring waktu, luka di kaki Oma Nilon tak kunjung sembuh hingga kurang lebih satu bulan lamanya. Kondisi itu membuat Oma Nilon dan keluarga khawatir hingga akhirnya ia harus menjalani operasi amputasi demi menyelamatkan kondisinya.
Sejak kehilangan satu kaki, aktivitas Oma Nilon menjadi sangat terbatas. Untuk berjalan beberapa langkah saja, ia harus menggunakan kruk sebagai alat bantu berjalan.
“Setiap hari oma hanya bisa duduk dan berbaring karena sudah sulit beraktivitas. Saat menggunakan kruk terlalu lama, rasa sakit sering datang. Bahkan oma pernah terjatuh akibat pusing. Keinginan terbesar oma hanya ingin memiliki kursi roda, namun keterbatasan ekonomi membuat itu belum bisa terwujud,” ucap Oma Nilon dengan nada sedih.
Rumah sederhana yang ditempati Oma Nilon kini menjadi saksi perjuangan seorang ibu lanjut usia yang harus bertahan hidup di tengah keterbatasan fisik dan ekonomi. Di usianya yang sudah senja, ia hanya berharap bisa mendapatkan perhatian dan bantuan agar dapat menjalani hidup dengan lebih layak.
Selain membutuhkan bantuan kursi roda, Oma Nilon juga sangat berharap bisa mendapatkan bantuan kaki palsu agar dapat kembali bergerak dan beraktivitas dengan lebih mudah tanpa harus terus bergantung pada kruk.
Masyarakat sekitar berharap pemerintah daerah, dinas sosial, maupun para dermawan dapat melihat kondisi yang dialami Oma Nilon. Bantuan kursi roda, kaki palsu, kebutuhan pokok, hingga perhatian kemanusiaan sangat diharapkan untuk meringankan beban hidupnya.
Kisah Oma Nilon bukan sekadar cerita tentang kehilangan satu kaki. Ini adalah kisah tentang perjuangan seorang ibu yang tetap bertahan dalam keterbatasan, sambil menyimpan harapan kecil agar ada tangan-tangan baik yang datang membantu agar bisa dapat menjalani hari tuanya dengan lebih layak. (Muel)

















