Loloda Tengah — Pelayanan kesehatan di Halmahera Barat kembali dipertanyakan keras. Seorang pasien asal Desa Jangailulu berinisial FM terpaksa tidur di depan Puskesmas “Loteng” Loloda Tengah, Desa Barataku, setelah hampir dua jam dibiarkan tanpa pelayanan karena tidak ada satu pun petugas yang membuka fasilitas kesehatan tersebut.
Informasi dari warga Barataku menyebutkan, FM tiba di puskesmas sekitar pukul 08.00 WIT, namun hingga pukul 11.00 WIT, pintu pelayanan tetap tertutup. Sementara itu, kondisi geografis dari Jangailulu menuju Barataku sangat berat — akses darat belum tembus dan warga hanya mengandalkan body fiber/kayu melalui jalur laut untuk mendapatkan pertolongan medis.
Mirisnya, pasien baru ditangani setelah pihak keluarga menghubungi petugas lewat telepon.
Pertanyaan besar pun muncul:
Di mana rasa tanggung jawab tenaga kesehatan?
Mengapa puskesmas bisa mangkrak selama dua jam tanpa pelayanan?
Peristiwa ini jelas merupakan bentuk kelalaian fatal yang bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang menegaskan bahwa setiap pasien berhak memperoleh layanan bermutu, manusiawi, adil, dan tepat waktu.
Jika puskesmas — yang seharusnya menjadi garda terdepan pelayanan — justru gagal memberi pertolongan segera, maka itu adalah cermin buruknya manajemen kesehatan daerah.
Kejadian ini sekaligus mencoreng komitmen Bupati Halmahera Barat, James Uang, dalam program peningkatan layanan kesehatan. Puskesmas yang tidak dibuka tepat waktu bukan hanya persoalan disiplin pegawai, tetapi pertanda gagalnya pengawasan dan kepemimpinan sektor kesehatan.
Tak heran, gelombang desakan dari masyarakat terus menguat. Warga meminta Bupati Halbar untuk:
• Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Dinas Kesehatan,
• Memberikan sanksi tegas kepada Kepala Puskesmas Loloda Tengah,
Bahkan mencopot Kadis Kesehatan yang dianggap tidak mampu mengontrol dan memastikan pelayanan berjalan semestinya.
Warga menilai, jika persoalan sekrusial ini dibiarkan, maka pelayanan kesehatan di wilayah terpencil akan terus terabaikan dan keselamatan pasien kembali dipertaruhkan.
Ini bukan pertama kali terjadi, dan jika tidak ada tindakan tegas, pasti akan terulang,” ujar salah satu warga dengan nada kesal.
Masyarakat Loloda Tengah menegaskan bahwa mereka membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar janji manis. Puskesmas bukan papan nama — ia adalah tempat orang berharap diselamatkan, bukan ditinggalkan di depan pintunya.(red)

















