Pulau Obi, Halmahera Selatan — Dua puluh dua tahun sudah Kabupaten Halmahera Selatan berdiri, namun di tengah gemerlap industri tambang yang menjanjikan kemakmuran, masih tersisa wajah lain dari realitas pembangunan. Di balik kilau nikel dan aktivitas tambang yang mendominasi kawasan ini,
Sebagian warga—terutama anak-anak di pedalaman dan pesisir—harus berjuang menembus deras air sungai hanya untuk bisa sampai ke sekolah. Kontras antara megahnya investasi tambang dan perjuangan pendidikan anak negeri ini menegaskan bahwa kemajuan belum sepenuhnya berpihak merata bagi semua.
Suara riuh anak-anak berpadu dengan gemericik air sungai di pagi itu. Di Desa Bobo, Kecamatan Obi Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, pemandangan tak biasa menjadi rutinitas siswa dan guru SD Negeri 240 harus menyeberangi sungai tanpa jembatan demi bisa sampai ke sekolah.
Air setinggi lutut orhg dewasa mengalir deras di depan mreka. Anak-anak kecil berseragam merah putih berdiri berjajar di tepi sungai, menggulung celana dan menenteng sepatu. Sbagian dri mereka menatap arus air yang kecokelatan dengan raut serius, sementara beberapa orang tua laki-laki sudah bersiap di tengah aruss, satuk per satu menggendong siswa ke seberangG
“Kalau tidak digendong, anak-anak bisa hanyut. Tapi mereka tetap mau datang ke sekolah,” tutur Yosna Yunita, salah satu guru SD Negeri 240, kepada BanoaTV, Minggu (2/11/2025).
Yosna menuturkan, kondisi itu sudah berlangsung lama. Setiap kali musim hujan tiba, sungai yg memisahkan permukiman warga dan sekolah berubah menjadi aliran banjir yang sulit dilalui. Tanpa jembatan, jalan satu-satunya hanyalah menyeberangi sungai itu dengan segala risikonya.
“Di kampung kami memang belum ada jembatan. Jadi setiap kali banjir, kami guru dan orang tua harus turun tangan bantu anak-anak menyeberang. Kadang kami semua basah kuyup, tapi tidak ada pilihan lain,” katanya dengan nada pasrah.
Video perjuangan mereka viral di media sosial usai diunggah Yosna di akun TikTok-nya, Kamis (23/10/2025). Dalm video itu, tampak beberapa siswa menunggu giliran digendong, sementara arus air terus mengalir deras di bawah kaki para orang tua yang berjuang menahan tubuh agar tak terbawa arus.
Bagi anak-anak di Desa Bobo, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas, tapi perjuangan nyata. Mereka harus melawan derasnya sungai setiap hari, hanya untkk bisa belajar membaca, menulis, dan berhitung. Namun tak satu pun dari mereka menyerah.
“Anak-anak tidak pernah mau bolos hanya karena sungai meluap,” ujar Yosna. “Mereka tetap datang, meskipun tahu harus digendong, bahkan menunggu lama sampai air agak surut.”
Potret sederhana dari Desa Bobo ini menyimpan makna yang dlamm. Di tengah keterbatasan infrastruktur dan perhatian pemerintah yang minim, semangat pra siswa dan guru di pelosok Halmahera Selatan menjadi simbol keteguhan.
Mereka mungkin menyeberangi sungai tanpa jembatan, tapi yang sesungguhnya mereka lewati adalah batas-batas keterbatasan. Di wajah-wajah kecil yang basah oleh air sungai itu, tergambar keyakinan bahwa pendidikan meski harus ditempuh dengan perjuangan tetaplah cahaya ynggtak bisa dipadamkan oleh derasnya arus kehidupan.(red)

















