Upaya Harita Nickel Menjaga Kelestarian Alam dan Keberlangsungan Hidup Masyarakat Lingkar Tambang

Minggu, 31 Desember 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim Media Relation Harita Nickel dan Rombongan Wartawan Malut. Doc: Halik

Tim Media Relation Harita Nickel dan Rombongan Wartawan Malut. Doc: Halik

LABUHA, Jarumsatu.com Kabar keberadaan tambang Nickel di Maluku Utara, khususnya Halmahera Selatan, di Pulau Obi menyusahkan masyarakat seperti apa faktanya?

Seperti kita ketahui, pemerintah saat ini sedang gencar untuk mendorong hilirisasi industri, termasuk di sektor pertambangan nikel yang saat ini dianggap sebagai komoditas primadona mengingat permintaan nikel yang semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Dari situ kemudian muncul pertanyaan apakah program hilirisasi nikel ini memiliki manfaat kepada masyarakat luas, terutama kepada masyarakat yang tinggal di daerah-daerah di mana sebuah perusahaan tambang beroperasi?

Pertanyaan lainnya adalah seberapa jauh tata kelola pertambangan yang baik mampu memberi manfaat lebih besar bagi peningkatan kesejahteraan rakyat serta jauh dari kerusakan lingkungan akibat adanya tambang.

Seminggu yang lalu, Media Relations and Partnerships Division, Harita Nickel, bersama sejumlah wartawan liputan Kota Ternate dan Labuha – Bacan melalui program Media Maluku Utara Site Visit yang mengunjungi langsung perusahaan tambang tersebut untuk memastikan seperti apa aktifitas pertambangan hilirisasi Nickel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Kehadiran jurnalis di lokasi pertambangan Harita Nickel kepulauan Obi, Halmahera Selatan ini diberikan kebebasan untuk menemukan fakta bahwa kehadiran perusahaan tambang di kepulauan Obi seperti Harita Nickel tak hanya sekedar menjadi ocehan publik yang mengada ngada.

Media Jarumsatu.com bersama rombongan Pers Maluku Utara, mendapat kesempatan berkunjung ke Pulau Obi untuk melihat langsung aktivitas perusahaan pada Sabtu, (16/12/2023)

Seperti yang di inginkan publik, bahwa perusahaan tambang seharusnya tidak hanya mengejar produksi semata untuk meraih keuntungan. Namun juga harus memperhatikan aspek lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Halmahera Selatan, khususnya masyarakat Desa lingkar tambang.

Hal ini terus diupayakan Harita Nickel dengan perusahaan afiliasinya dalam menjalankan operasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Di pulau terpencil tersebut, Harita Nickel melakukan kegiatan penambangan yang terintegrasi dengan pengolahan dan pemurnian nikel hilirisasi Nickel oleh PT. Halmahera Persada Likgen

Di kesempatan berkunjung ke Pulau Obi untuk melihat langsung aktivitas perusahaan. Disana kita melihat bagaimana pengolahan sisa orniker oleh perusahaan tambang milik Lim Haryanto ini, sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar tambang.

Frengky – Superintendent Dry Stack Tailing Facility (DSTF) PT Halmahera Persada Lygend (HPAL) Harita Nickel mengatakan upaya menjaga kelestarian lingkungan sekitar tambang agar tidak mencemari lingkungan, pihaknya mengatur drainase tambang sebagai upaya menerapkan praktik tambang yang baik. Dia menerangkan, ketika hujan datang maka ada risiko terjadinya erosi permukaan tanah.

Rombongan wartawan saat mengunjungi tempat olahan sisa Nickel untuk pembuatan pafing blok dan lainnya.

Lanjutnya, pihaknya juga membuat sendiment pond sebagai wadah untuk pengendapan. Dengan begitu, aliran air yang keluar dari wilayah tambang sudah menjadi air yang bersih.

“Kita terus upaya menjaga kelestarian lingkungan sekitar tambang. Jadi proses penyaringan air sisa tambang saat masuk ke danau atau ke laut sudah sangat bersih sesuai ketentuan baku mutu yang ditetapkan pemerintah,” katanya.

Sisa hasil pengolahan nikel pun juga tidak dibuang begitu saja. Frengky mengatakan, sisa hasil produksi smelter feronikel yakni slag nikel diolah menjadi produk bahan bangunan seperti paving block, batako, dan lainnya.

“Pada intinya kita tidak membuang sembarangan sisa pengolahan industri,”tuturnya

Selain melihat langsung pengolahan limbah industri, rombongan jurnalis dibawah ke salah satu titik untuk dikunjungi yakni wilayah tambang yang telah direklamasi bernama Komodo.

Kawasan reklamasi Komodo dulunya merupakan wilayah tambang Harita Nickel. Setelah produksi di kawasan ini rampung, pemulihan pun dilakukan. Kini, wilayah tersebut telah menjadi wilayah yang hijau dengan beragam tanaman.

Adapun jenis tanaman yang ditanam di wilayah ini antara lain  Cemara Laut, Katu putih, Meranti, Mohani, Marsawa, Bintangur, Gofasa, Ketapang dan Jabon Merah.

Operation Foreman, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) mengatakan areal reklamasi di kawan perusahaan yang dinamai komodo ini, tanamannya di tanam dengan jarak 4×4 di lahan seluas 11, 8 Ha. Proses penanaman dimulai pada tahun 2019 pada koordinat X: 127° 25′ 10, 55” S dan Y: 1° 31′ 8, 75″ S.

Dia menjelaskan, area purna tambang biasanya memiliki bentuk yang tidak beraturan. Untuk menghijaukan wilayah tersebut, langkah awal yang ditempuh ialah menjadikan wilayah tersebut sebagai wilayah penumpukan atau disposal. Setelah penuh kapasitasnya, pihaknya melakukan penataan supaya tidak longsor. Dikarenakan saluran air atau drainase juga ditata.

Disamping itu, untuk mendukung perekonomian masyarakat lingkar tambang, Harita Nickel juga membangun dermaga penyeberangan laut. Dermaga tersebut disediakan perusahaan untuk dikelola oleh pemerintah desa melalui badan usaha milik desa (BUMdes) desa Kawasi.

“Ini kita bangun untuk mendukung kesejahteraan masyarakat lingkar tambang. Dan dalam waktu dekat ini akan dilakukan penyerahan kepada BUMdes Desa Kawasi untuk dikelola,”

Selain itu, Harita Nickel juga menyediakan lahan  sebagai kebun percontohan bagi masyarakat lingkar tambang. Tempat tersebut dinamakan dengan “Salam Kawasi”  sebagai pusat pembelajaran pertanian terpadu yang disiapkan Harita Nickel untuk masyarakat di sekitar operasionalnya di Pulau Obi.

Suryo Aji, Community Development (ComDev) Superintendent, PT HPAL, Harita Nickel, mengatakan Salam Kawasi merupakan tempat yang dijadikan sebagai tempat pembelajaran masyarakat lingkar tambang ini dimulai dari budidaya tanaman, greenhouse (rumah kaca), perikanan, hingga peternakan semuanya ada di salam Kawasi.

Kolam budidaya tanaman sayuran di Kebun Percontohan Salam Kawasi milik Harita Nickel. Doc: Fadli

“Di Salam Kawasi terdapat kegiatan yang merupakan bentuk implementasi dari program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) lingkar tambang”,jelas Suryo kepada rombongan wartawan Maluku Utara saat mengunjungi Salam Kawasi.

Lebih jauh, Perusahaan dengan puluhan ribu tenaga kerja ini juga menyediakan sebanyak 259 unit rumah untuk pemukiman baru atau disebut Desa Kawasi Baru. Adanya permukiman baru ini diharapkan masyarakat memiliki tempat tinggal yang lebih layak dan sehat.

Tampak depan rumah di ECO Village Desa Kawasi Baru. Doc: Fadli

Superintendent Construction, Special Project, External Relations, PT HPAL, Harita Nickel, Riki Abdillah menerangkan bahwa Kawasi Baru ini penyediaan Infrastruktur desanya pun lengkap. Terdapat rumah ibadah untuk umat Muslim dan Kristiani, sekolah untuk PAUD, SD, SMP hingga SMA, lapangan olahraga dan bermain, serta pos pelayanan kesehatan. Tidak hanya itu, jaringan listrik standar pemerintah dan air bersih pun tersedia di setiap rumah.

Dengan adanya pemukiman baru, Harita Nickel menaruh perhatian dan harapan besar terhadap masyarakat Desa Kawasi agar memiliki tempat tinggal yang lebih layak dan sehat,” tandasnya. (Red)

Berita Terkait

Kapolres Halsel: Penyelidikan Penembakan Guru Mengarah pada Konflik di Lingkungan Sekolah
ASN KPH Diduga Jual Tanah Topsoil ke Pulau Obi, 30 Anggota DPRD Halsel Dinilai Tutup Mata
PARADE Ingatkan Pemkab Halsel, WPR Kusubibi Kunci Kepastian Hukum dan Ekonomi Masyarakat
Dugaan Pencabulan Anak di Bawah Umur di SD Negeri 258 Halsel, Guru Berinisial J.T.P. Resmi Dilaporkan ke Polisi
Kadis Dispora Halmahera Selatan Noce Totononu Bawa Inovasi Sport Saruma ke Panggung Nasional PKN Tingkat II Angkatan IV Tahun 2026
Aktivitas PETI Kaputusang Beroperasi Terbuka, Kinerja Kapolres Halsel Jadi Catatan Merah Publik
ASN KPH Anak Buah Sherly, Fajri Ahmad, Diduga Jual 6.000 Karung Tanah Topsoil Ilegal ke Pulau Obi
Tambang Ilegal Kali Raim Diduga Kian Bebas, PARADE Minta Kapolres Bertindak Tegas

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:19 WIB

Kapolres Halsel: Penyelidikan Penembakan Guru Mengarah pada Konflik di Lingkungan Sekolah

Kamis, 30 Juli 2026 - 17:54 WIB

ASN KPH Diduga Jual Tanah Topsoil ke Pulau Obi, 30 Anggota DPRD Halsel Dinilai Tutup Mata

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:18 WIB

PARADE Ingatkan Pemkab Halsel, WPR Kusubibi Kunci Kepastian Hukum dan Ekonomi Masyarakat

Kamis, 30 Juli 2026 - 15:14 WIB

Dugaan Pencabulan Anak di Bawah Umur di SD Negeri 258 Halsel, Guru Berinisial J.T.P. Resmi Dilaporkan ke Polisi

Rabu, 29 Juli 2026 - 13:17 WIB

Kadis Dispora Halmahera Selatan Noce Totononu Bawa Inovasi Sport Saruma ke Panggung Nasional PKN Tingkat II Angkatan IV Tahun 2026

Berita Terbaru