LABUHA, Jarumsatu.com – Dalam rangka memperingati turunnya Alqur’an, PEMDA HALSEL gelar Hikmah Nuzulul Qur;an di Aula kantor Bupati pada 26 Ramadhan 1444 H, Senin (17/04/2023).
Kegiatan yang di hadiri Wakil Bupati Hasan Ali Bassam, Asisten dan Staf Ahli serta para pimpinan OPD dan segenap jajaran ASN lingkup Pemkab Hal-Sel itu berjalan hikmah dan santai.
Pada kesempatan itu, Ketua GEMA SUBA, M. Husni Muslim di daulat untuk mengisi Hikmah dengan tajuk Internalisasi nilai- nilai Alqur’an di Era Globalisasi.
Dalam ceramahnya, Husni menjelaskan bahwa selain berdampak positif, Globalisasi juga berdampak negatif. Untuk itu, jika Globalisasi dianalogikan seperti lautan, maka kita patut untuk belajar dan menguasai teknik berenang, agar kita tidak terbawa bahkan tenggelam dalam gelombang dan arus Globalisasi.
Sebab Globalisasi merupakan sunnatullah dan kita tidak akan mungkin menghindarinya, untuk itu kita perlu menjadikan Alqu’an sebagai benteng serta menginternalisasi nilai- nilai Alqur’an itu dalam kehidupan kita”,tandas Husni
Alumnus UIN Sunan Kalijaga itu juga menyentil bahwa internalisasi nilai- nilai Alqur’an wajib mendapat perhatian khusus dan serius bagi kita semua terutama bagi Pemda Halsel dalam menatap kemajuan negeri SARUMA yang baldatun thayyibatun warabbun gafuur.
“Hal ini dipandang sangat urgen bagi para Sultan Bacan dari zaman ke zaman, sehingga meski dalam tekanan devide at Impera kaum belanda saat itu, para sultan Bacan memainkan politik SMARTnya dengan baik,”tuturnya
Lanjut Husni, buktinya ketika Belanda yang berada di Bacan mengetahui ada upaya dari lembaga kesultanan untuk pencerdasan bagi kalangan Kedaton dan kaum pribumi, maka mereka seolah- olah mengalah untuk ditutup. Namun, pada waktu yang tidak lama upaya pencerdasan yang dikenal dengan istilah “pangajiang” itu dibuka dan berproses lagi.
Kata Husni pulah, hal ini berlangsung sekitar 3-4 kali, nanti pada 1932 M oleh YM Sultan Oesman Sjah (sultan Bacan ke 18) melalui MDA Madrasah Misbahul Aulad, maka pangajiang yang berlangsung secara sembunyi- sembunyi itu dengan tegas dan terang- terangan dilasanakan secara terbuka.
Spirit internalisasi Alqur’an ini diteruskan juga oleh anaknya yakni YM Sultan Muksin Sjah (sultan Bacan ke 19) pada 1948 dengan menerjunkan para Asatidz dan generasi terbaik saat itu ke berbagai pelosok desa untuk membuka madrasah sekaligus mengajarkan nilai- nilai Alqur’an disana.
“Generasi tersebut diantaranya ada Alm ompu ustdz M. Jafar Abd. Karim dikirim ke Kayoa, Alm Dano ustadz Abukakar Isk. Alam di kirim ke Madopolo, Alm ompu ustdaz Ahmad Abusama di Wayaua dan Bibinoi”, pungkasnya (Adhy)

















