Kawasi, Halmahera Selatan — Investigasi lapangan tim media bersama warga Desa Kawasi menemukan kondisi memprihatinkan di Kali Bobiri, salah satu sungai kecil yang langsung terhubung dengan Sungai Akelamo. Sejumlah material merah pekat, limbah padat, hingga endapan tebal menyerbu aliran sungai setelah banjir besar yang terjadi beberapa hari lalu.
Pantauan tim menunjukkan lapisan tanah laterit berwarna merah bata menumpuk di bantaran, air berubah keruh jingga, dan di beberapa titik terlihat genangan yang mengeluarkan warna mirip oksidasi besi. Kondisi ini mengindikasikan adanya rimpahan material dari arah hulu yang terbawa derasnya banjir.
Tidak hanya itu. Tim media juga menemukan sampah plastik industri, karung, ban dalam mobil, hingga potongan helm yang tersangkut pada akar-akar pohon di tepi sungai. Menurut warga, limbah-limbah ini tidak pernah ditemukan sebelumnya di Kali Bobiri.
Ini semua turun waktu banjir. Air datang dari arah kawasan industri Harita Group, langsung ke kali Bobiri terus masuk sungai Akelamo,” ujar salah satu warga yang mengantarkan tim ke lokasi.
Dorang bilang aman-aman, tapi kalau lihat begini berarti ada yang bocor di atas sana,” ungkap warga tersebut.
Foto-foto yang diambil tim memperlihatkan kerusakan vegetasi, tumpukan batu merah, pohon mengering, serta aliran sungai yang berubah menjadi kubangan sedimen tebal. Kondisi ini semakin memperkuat dugaan warga bahwa ada aliran material dari area operasional perusahaan di bagian atas DAS, termasuk kawasan yang terhubung dengan aktivitas tambang dan industri Harita Group.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak perusahaan terkait fenomena ini.Namun warga menegaskan bahwa mereka akan terus mendesak pemerintah daerah dan instansi teknis, seperti DLH dan ESDM, untuk menelusuri sumber rimpahan yang setiap tahun semakin parah.
Kalau begini terus, Sungai Akelamo tinggal tunggu mati,” kata salah satu warga.
Temuan ini membuka babak baru dalam sorotan publik terhadap pengelolaan lingkungan di wilayah Kawasi, terutama pada perusahaan besar yang beroperasi di area hulu. Warga meminta transparansi dan tindakan cepat, mengingat sungai adalah sumber hidup masyarakat sekitar.” (red)

















